Bioskopnya Mini, Labanya Maksi

KOMPAS.com – Anda yang gemar nonton film terbaru di bioskop ternama, bisa jadi pernah kelewatan nonton film favorit. Hal itu terjadi karena Anda sedang sibuk bekerja atau bioskopnya terlalu jauh untuk disambangi.

Nah, bagi Anda yang tak sempat nonton film favorit di bioskop, sekarang ada jalan keluarnya. Tak perlu beli DVD bajakan karena sekarang sudah banyak bioskop mini yang menyediakan tontonan film sesuai dengan pesanan penggemarnya.

Sesuai dengan namanya, bioskop mini memiliki tempat duduk yang terbatas. Lihat saja, kapasitas duduk di situ paling banyak untuk 20 orang dan paling sedikit dua orang. Sepintas, konsep bioskop mini mirip ruang karaoke, di mana konsumen bisa memilih tempat sesuai dengan kebutuhan.

Tentu banyak keuntungan nonton di bioskop mini. Selain bisa pesan film, “Penggemar film tak perlu khawatir jika telat menonton film favorit mereka,” kata Ide Hafizh, Manajer Movie Box, salah satu penyedia bioskop mini di Yogyakarta.

Mirip dengan bioskop biasa, Movie Box juga dilengkapi tata suara yang mumpuni. Penonton yang sering hadir di Movie Box itu adalah kelompok usia remaja dan dewasa.

Hafizh bilang, usaha yang berdiri sejak 2004 itu menyediakan studio kapasitas dua orang, empat orang sampai 20 orang. Selain studio dengan layar lebar seperti bioskop, Movie Box juga menyediakan studio dengan teve plasma.

Soal tarif menonton, Hafizh mematok mulai Rp 60.000 sampai Rp 180.000 untuk satu film. “Omzet kami bisa Rp 80 juta per bulan,” ujar Hafizh yang mengelola dua gerai Movie Box di Yogyakarta.

Selain Movie Box ada Rumah Cinema The Mini Theater di Sidoarjo, Jawa Timur. Bioskop mini yang beroperasi sejak Agustus 2008 lalu ini sudah memiliki 3.000 koleksi film untuk pengunjungnya.

David Dwik, manajer operasional Rumah Cinema (RC) bilang, mereka hanya menyediakan film sesuai dengan usia si penonton. “Jika penontonnya pelajar maka kami beri pilihan film remaja sesuai dengan umur,” tutur David.

Selain menjadi ajang hiburan, bisnis ini dijadikan sarana pendidikan bagi siswa sekolah. “Banyak guru mengajak siswa menonton film pendidikan ke tempat kami,” pungkas David.

Untuk menonton film di RC, David mengenakan tarif tiket Rp 15.000 per orang. Tarif tiket menonton itu tetap sama termasuk tarif pada akhir pekan.

Agar pengunjung semakin ramai, David memberikan harga khusus bagi penonton yang datang rombongan, terutama rombongan dengan jumlah lebih 20 orang. “Tarif ramai-ramai hanya Rp 250.000 untuk satu film,” kata David.

Dalam sehari, David mampu menjaring 200 penonton dengan omzet harian rata-rata Rp 3 juta atau omzet sebesar Rp 90 juta per bulan. “Biaya operasional bisnis ini relatif kecil hanya 20 persen dari omzet,” terang David.

Bagi Anda yang tertarik berbisnis ini, modal yang dibutuhkan sekitar Rp 100 juta – Rp 200 juta. Uang itu untuk membeli peralatan studio seperti layar, proyektor, player, tempat duduk, dekorasi ruangan, serta koleksi film.

Namun sebelum terjun ke bisnis ini, sebaiknya Anda perlu memperdalam pengetahuan tentang film terbaru baik lokal atau film impor.

http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/01/05/14424630/Bioskopnya.Mini.Labanya.Maksi

About ardynofian

nothink
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s